Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Cara Mewujudkan Kebahagiaan Anak Yang Bermula Dari Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah

Kebahagiaan Anak
Kebahagiaan Anak

Dari mana sih kebahagiaan anak bermula ? Salah satu permulaaanya adalah saat kamu bisa melindungi anak dengan kasih sayang. Melindungi buah hati dengan kasih sayang merupakan hal yang penting dalam keluarga. Pada ulasan kali ini kami akan membaha cara mewujudkan kebahagiaan anak.  

Mewujudkan keluarga bahagia sebagaimana impian kita, membutuhkan kesiapan mental dan fisik dari kedua pasangan. Calon pasangan suami istri yang hendak memasuki pernikahan disyaratkan telah dewasa secara fisik dan memiliki kematangan emosional, didukung pengetahuan tentang segala hal yang terkait dengan kehidupan rumah tangga.

Sebab, hal ini akan menjadi acuan untuk membina keluarga dan mendidik anak-anak kita. Salah satu pengetahuan penting yang harus diketahui oleh pasangan adalah mengenai kesehatan reproduksi. Pengetahuan tersebut seharusnya dimengerti oleh pasangan sebelum mereka menikah, karena pengetahuan tentang reproduksi banyak terkait dengan persoalan hubungan seksual pasangan, bagaimana merencanakan dan menentukan kehamilan, termasuk pengetahuan alat kontrasepsi, merencanakan keluarga berencana (KB), menghindari gangguan kesehatan dan penyakit yang terkait dengan organ reproduksi, proses pertumbuhan janin, tumbuh kembang anak, dan sebagainya. 

Mengingat cakupan kesehatan reproduksi tersebut sangat luas dan penting bagi pasangan muda, seharusnya dipersiapkan sebelum memasuki masa pernikahan agar masing-masing calon pasangan memiliki bekal yang cukup.

Sebagai contoh, ketidaktahuan tentang fungsi organ reproduksi dan alatalat kontrasepsi dapat mengakibatkan terjadinya kehamilan yang tidak dikehendaki, praktik aborsi yang tidak aman, yang bermuara pada tingginya angka kematian ibu dan janin atau bayi. Pasangan yang tidak mengetahui hak-hak reproduksinya dalam berhubungan, dapat menyebabkan terjadinya kekerasan seksual pada pasangannya, yang menjadi korban adalah perempuan.

Begitu juga ketidaksiapan mental yang disebabkan oleh berbagai macam faktor, terutama pada pernikahan dini, akan memberi dampak negatif pada hal-hal yang terkait dengan persoalan-persoalan tersebut. Karena itu, bagaimana mempersiapkan keluarga bahagia, sakinah mawaddah wa rahmah dalam pengertian kedewasaan dalam bersikap, memiliki pengetahuan, kematangan emosi, serta perilaku yang saling menghargai akan sangat dibutuhkan dalam membina sebuah keluarga. Keluarga di dalam Islam selalu diawali dengan sebuah pernikahan. Salah satu hikmah dari disyariatkannya nikah adalah untuk memperoleh keturunan, atau untuk memelihara kelangsungan keturunan manusia (hifzh al-nasl).

Manusia diciptakan Allah Swt. dengan fitrahnya, masing-masing memiliki kebutuhan biologis berupa nafsu seksual. Laki-laki  dan perempuan dewasa memiliki hasrat seksual yang membutuhkan penyaluran dan pengendaliannya. Karena itu, Islam menetapkan syariat nikah sebagai jalan yang dihalalkan untuk saling melepaskan kebutuhan seksual bagi seorang laki-laki  dan seorang perempuan. Sebaliknya, hubungan seksual yang dilakukan di luar pernikahan adalah dilarang atau haram hukumnya menurut Islam.

Keluarga di dalam Islam selalu diawali dengan sebuah pernikahan. Salah satu hikmah dari disyariatkannya nikah adalah untuk memperoleh keturunan, atau untuk memelihara kelangsungan keturunan manusia (hifzh al-nasl). Para ulama sepakat bahwa pernikahan disyariatkan oleh agama. Dalil yang menunjukkan syariat nikah di antaranya terdapat dalam Surah AlNûr (24): 32, Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu. Dalam ayat lain disebutkan, Maka nikahilah wanita-wanita yang baik bagimu (QS Al-Nisâ’ [4]: 3). Adapun dalam hadis disebutkan, “Wahai sekalian pemuda! Barang siapa di antara kamu sudah mempunyai kemampuan (albâ’ah) , maka menikahlah. Sebab, pernikahan itu akan lebih memelihara pandangan dan lebih dapat menjaga kemaluan. Dan barang siapa belum mampu untuk menikah, maka hendaklah ia berpuasa.

Karena sesungguhnya berpuasa itu dapat mengalahkan hawa nafsu.” 11 Pernikahan yang ideal tidak hanya berlandaskan cinta, tetapi mensyaratkan adanya kemampuan, yang di dalam hadis disebut sebagai al-bâ’ah. Jika seseorang sudah memiliki kemampuan baik secara fisik, psikis, maupun secara ekonomi, dianjurkan agar ia menikah. Kemampuan dalam arti fisik adalah telah memasuki usia dewasa dan memiliki tubuh yang sehat.

Kemampuan dalam arti psikis adalah memiliki emosi yang stabil, mampu membuat keputusan untuk dirinya dan keluarga, serta dapat bertanggung jawab baik terhadap dirinya maupun orang lain. Adapun pengertian mampu secara ekonomi adalah memiliki penghasilan yang dapat membiayai kebutuhan hidup berupa makanan, pakaian, rumah, pendidikan, perawatan kesehatan, dan yang lainnya, baik untuk dirinya maupun keluarga. Bagi mereka yang tidak memiliki persyaratan-persyaratan tersebut dapat dikategorikan “belum mampu”, dan sebaiknya menunda pernikahan sampai saat yang tepat. Ini sejalan dengan perintah Rasulullah Saw. dalam hadis tadi, agar seseorang membatalkan niatnya untuk menikah dan mengendalikan dorongan seksualnya dengan cara melakukan ibadah puasa.