Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Lingkungan Yang Kondusif Dan Membangun Tokoh Idola Dalam Benak Anak

Kali ini kita telah sampai pada tahapan membangun Lingkungan yang kondusif dan tokoh idola dalam upaya membangan karfakter Anak. Kami akan menyajikan beberapa hasil penelitian, fakta dan langkah langkahnya.

Menurut penelitian yang dikutip oleh Prof. Dr. Zakiah Daradjat, perilaku manusia 83% dipengaruhi oleh apa yang dilihat, 11% oleh apa yang didengar, dan 6% sisanya oleh gabungan dari berbagai stimulus. Dalam perspektif ini, pengaruh lingkungan terhadap pembentukan kepribadian seseorang sangatlah besar.

Lingkungan Yang Kondusif Dan Membangun Tokoh Idola Dalam Parenting


Suasana rumah tangga akan menjadi pemandangan setiap hari untuk anak-anak. Jika rumah tangga tidak kondusif bagi anak, anak tidak akan betah di rumah, dan akan pergi untuk bergabung dengan teman sebaya.

Jika teman-teman sebayanya juga tidak betah di rumah, mereka akan membentuk komunitas tersendiri yang pada umumnya rentan terhadap pengaruh negatif. Banyak orangtua menyediakan untuk anak-anak dan keluarganya sarana fisik yang sangat lengkap dalam rumahnya, tetapi lupa menyediakan sarana psikologis.

Padahal, anak-anak dalam masa pertumbuhan psikologis, sangat membutuhkan kehadiran ayah sebagai “tuhan” yang “sempurna”, “berperan” dan membanggakan, serta kehadiran ibu sebagai “lautan” kasih sayang yang tak bertepi.

Lingkungan keluarga yang kondusif bagi pembentukan kepribadian anak-anak dan anggota keluarga lainnya adalah lingkungan psikologis, meski lingkungan fisik juga diperlukan. Kehadiran ayah sebagai idola bagi anak-anak akan menanamkan konsep diri positif sejak dini, sementara kehadiran ibu sebagai lautan kasih sayang akan mengikat psikologi anak pada cinta keluarga dan keindahan hidup.

Pada keluarga Muslim, kebiasaan ayah mengimami shalat di rumah dan kebiasaan ibu menanyakan PR sekolah, serta kemampuan kedua orangtua mencarikan solusi dari problem belajar maupun problem pergaulan anak akan menanamkan bibit kredibilitas moral anak.

Secara psikologis, rumah yang ideal bagi anak-anak adalah rumah yang memuat unsur kehadiran ayah dan ibu, kemudian ditambah dengan kehadiran seorang paman, yakni orang dalam usia dewasa tetapi jaraknya tidak terlalu jauh, yang berfungsi sebagai pelarian psikologis ketika ada hal-hal yang tidak dipenuhi oleh ayah dan ibu.

Peran paman bisa dilakukan oleh adik ayah atau ibu, bisa juga oleh keluarga lain, sopir, atau pembantu rumah tangga yang dedikatif terhadap keluarga tempat ia bekerja. Sebagai kelengkapan psikologis dari suatu rumah, sangat indah jika anak-anak masih memiliki kakek atau nenek yang bisa dikunjungi secara berkala. Peran kakek dan nenek juga bisa diganti oleh saudara kakek atau orang yang dituakan.

Rumah tangga akan berfungsi efektif bagi pembentukan kualitas anak saat ia dapat berfungsi sebagai tempat belajar (bait al-‘ilm) dan tempat bersemainya kasih sayang (bait al-mahabbah). Lingkungan hidup anak juga menyangkut kehidupan di luar rumah, yakni masyarakat tempat mereka tinggal.

Banyak orang memusatkan perhatian pada lingkungan di dalam rumah, dan mengabaikan lingkungan luar rumah, termasuk “jalan becek” di depan rumah yang setiap hari dilewatinya. Setiap keluarga seyogianya ikut aktif membentuk lingkungan sosial bagi anak-anak mereka, misalnya, ikut memikirkan sarana bermain, belajar, organisasi, olahraga, sosial, peribadahan, dan sarana aktualisasi diri lainnya yang cocok bagi lingkungan warga.

Keterlibatan remaja dalam perkumpulan semacam remaja masjid, klub olahraga, atau kelompok belajar akan mengikat remaja pada imajinasi yang positif, sekaligus menepis godaan liar yang biasanya menarik remaja dalam usia pubertas. Kelalaian orangtua memikirkan lingkungan sosial hidup anak-anaknya terkadang berakibat fatal dan menghilangkan makna dari jerih payah kesungguhan membentuk karakter anak di dalam rumah. Sebab, secara psikologis godaan negatif (yang datang dari lingkungan sosial) itu lebih kuat pengaruhnya dibandingkan dengan ajakan positif (yang dibangun di dalam lingkungan rumah) meski sudah lama ditanamkan.

Pengaruh buruk lingkungan sosial yang kuat terhadap ketahanan keluarga bagaikan setitik nila yang merusak susu sebelanga. Perumpamaan kekuatan lingkungan disebutkan dalam hadis Nabi Saw. yang mengatakan bahwa bergaul dengan orang baik itu seperti orang yang berdekatan dengan penjual minyak wangi, meskipun tidak membeli ia ikut berbau wangi karena watak penjual minyak wangi itu selalu menempelkan minyak wangi yang dijajakannya kepada setiap orang yang datang mendekat.

Sementara bergaul dengan orang jahat itu ibarat menjalin keakraban dengan tukang pandai besi, kalau tidak tepercik apinya, hampir pasti abunya akan mengotori pakaiannya.

Membangun Tokoh Idola

Pada masa kanak-kanak dan remaja, motif imitasi dan identifikasi sedang dalam pertumbuhan dan mencapai puncaknya. Ketika masa kanak-kanak, ayah adalah tokoh identifikasinya.

Bagi anak-anak, figur ayah adalah tokoh yang terhebat dalam alam psikologisnya. Seorang ayah yang bisa memenuhi motif identifikasi anaknya hingga anak itu meningkat remaja, ia akan tetap menjadi tokoh idola anaknya.

Di mata anak, ayah tetaplah besar meski secara sosial mungkin tidak. Sebaliknya, seorang ayah yang gagal menjadi tokoh idola anaknya ketika masih kanak-kanak dan remajanya, ayah tetap tidak besar meskipun boleh jadi secara sosial ia adalah tokoh besar. Seorang anak membutuhkan ayah sebagai ayahnya sendiri, bukan ayahnya orang banyak.

Dalam perspektif ini, seseorang yang tidak mengenal siapa ayahnya (atau siapa ibunya) mengalami krisis identitas, karena ia kehilangan tokoh idola. Untuk bisa menjadi idola anak, seorang ayah juga harus mempunyai konsep tentang anak: apa yang diinginkannya dari anaknya, mau dibentuk menjadi apa dan siapa.

Tanpa konsep itu, seorang ayah tidak bisa mendesain kapasitas dan corak moralitas anaknya. Konsep tentang anak sudah harus dirancang ketika seseorang memilih pasangan hidupnya, karena anak akan menjadi “siapa” sangat erat hubungannya dengan “siapa” ayah ibunya. Lalu, pada proses hubungan suami istri hingga anak dalam kandungan, obsesi tentang anak yang diharapkan tidak boleh hilang dari pikiran ayah ibunya, terutama ayahnya. Suasana batin ibu yang mengandung sangat besar pengaruhnya terhadap psikologis (halus-kasarnya perasaan) anak yang dikandung nanti.

Demikian pula gizi yang dikonsumsi selama hamil sangat menentukan kualitas anak yang dikandung. Kualitas gizi akan memengaruhi kesehatan fisik bayi, sementara kualitas kehalalan / keharaman makanan akan memengaruhi tabiat fitrahnya. Begitu pula perilaku ayah selagi istri mengandung akan memengaruhi corak watak sang bayi.

Inilah makna hadis Nabi Saw. bahwa faktor hereditas itu menurun kepada anak (takhayyarû li nuthafikum fa inna al-irâgha dassas). Hubungan “psikologis” antara anak dan ayah ibunya sudah terjalin sejak anak belum memiliki kesadaran tentang realitas, bahkan sejak bayi dalam kandungan. Pada usia sekolah, kedudukan orangtua disaingi oleh guru.

Terkadang seorang anak lebih memperhatikan apa kata guru dibandingkan dengan apa kata ibunya di rumah. Ketika seseorang meningkat menjadi remaja, tokoh identifikasinya berubah kepada tokoh-tokoh terkenal, baik artis, olahragawan, atau tokoh yang melambangkan kehebatan dan keterkenalan. Mereka suka memasang poster tokoh yang menjadi idolanya di kamar tidur, meniru gaya rambutnya, mode pakaiannya, dan aksesoris lainnya.

Pada umumnya, dalam usia remaja mereka mengambil tokoh idola tanpa memahami substansi kehebatan tokoh idolanya. Ketika seseorang dalam usia mahasiswa, sudah bisa berpikir logis, bisa membandingkan berbagai aliran pemikiran dari literatur yang dibaca, tokoh idola yang dipilih pada umumnya adalah tokoh yang memiliki gagasan yang kuat, khas, menonjol, melawan arus atau yang telah membuktikan mampu melahirkan karya-karya besar, baik orang itu masih hidup atau sudah menjadi catatan sejarah.

Bagi orang dewasa seusia mahasiswa, tokoh idola sangat berperan dalam membangun cita-cita masa depan. Pemikiran besar dari orang besar itu mengilhami orang muda untuk berpikir besar. Orang besar adalah orang yang ruang lingkup pemikirannya luas melampaui ruang sosial, geografis, serta zaman ketika orang besar itu hidup. Tokoh-tokoh besar dunia yang banyak di jadikan idola pemuda, antara lain Hitler, Napoleon, Gamal Abdel Nasser, Soekarno, Imam Khomeini, Khadafi, dan yang lainnya. Mengenali orang besar itu bisa dilakukan dengan membaca biografinya atau mengunjungi jejak sejarah tokoh tersebut.

Penulisan biografi dari pelaku sejarah pun sangat diperlukan. Di Indonesia, misalnya, perlu disebarluaskan kepada generasi muda, biografi dari para pahlawan nasional Indonesia, biografi dari tokoh bisnis, tokoh pemuda, dan tokoh keilmuan. Dari biografi itu, generasi muda dapat mengetahui bagaimana para pendahulu mengalami pasang surut kehidupan, merespons perkembangan, dan berpikir menembus ruang dan waktu sehingga mereka dikenal sebagai tokoh.

Orang besar adalah orang yang bisa “bermimpi” tentang suatu hal yang mustahil, tapi kemudian bisa mewujudkan impiannya dalam kenyataan. Semua karya besar pada mulanya secara sinis dipandang oleh orang-orang sebagai impian kosong. Kajian tentang tokoh juga perlu digalakkan dalam bentuk seminar, penelitian mahasiswa untuk penulisan skripsi, tesis, atau disertasi