Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Membangun Karakter Anak Sejak Dalam Kandungan

Anak merupakan titipan Allah kepada seorang ayah dan seorang Ibu, Olehnya itu Seorang pasangan orang tua hendaklah mendidik dan menjaga anaknya sejak masih dalam kandungan. Kami akan menguraikan Tahapan bagaimana membangun karakter Anak sejak dalam kandungan.

Bukan hanya ibu-ibu yang menaruh perhatian terhadap pendidikan anak-anak. Para pemimpin bangsa juga harus berperan aktif dalam menangani masalah ini, karena pendidikan anak berkaitan dengan pendidikan generasi.

Membangun Karakter Anak Sejak Dalam Kandungan


Prestasi generasi tua bangsa ini menjadi tidak berarti jika generasi berikutnya tidak terdidik atau salah didik sebagai generasi penerus. Anak-anak kita terbentuk karakternya melalui tiga lingkaran pendidikan: keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Ada orangtua yang sangat menekankan pendidikan di keluarganya, ada yang lebih memercayakan kepada sekolah unggulan dengan biaya mahal, dan ada yang tidak mampu di keluarga dan tidak mampu juga memasukkan anaknya ke sekolah unggulan, bahkan ke sekolah biasa, sehingga terpaksa menyerahkan pendidikan anaknya kepada masyarakat.

Dalam kenyataan sosial, ada lulusan sekolah unggulan yang karakternya buruk sehingga ketika dewasa menjadi duri di tengah masyarakatnya. Sebaliknya, ada anak dari keluarga miskin yang keluarganya sangat tidak memadai secara sosial sehingga anaknya sejak kecil dilepas begitu saja di tengah masyarakat.

Namun akhirnya, ia justru menjadi orang yang berkarakter dan bermakna di tengah-tengah masyarakatnya. Pertanyaannya, di mana memang dasar pendidikan yang menjadi tonggak terbangunnya karakter anak-anak kita? Di sinilah relevansinya kita berbicara tentang pranatalia education, atau pendidikan anak sebelum lahir.

Dasar Psikologi

Teori Behaviourisme mengatakan bahwa anak itu bagaikan selembar kertas putih yang bisa ditulis atau digambar apa saja, dan sang kertas tak pernah bisa menolak. Manusia, menurut teori ini, terbentuk oleh lingkungannya, disebut homo mechanicus, atau manusia mesin yang tak berjiwa.

Lancar tidaknya mesin bukan bergantung kepada faktor dalam, tetapi oleh faktor luar, seperti onderdil dan bahan bakar. Lingkunganlah yang bisa membentuk manusia menjadi pemberani, penakut, pendendam, atau pemaaf.

Teori ini dibantah oleh teori kognitif yang menyatakan bahwa manusia itu bisa berpikir sehingga bisa mendistorsi lingkungan, tidak tunduk begitu saja. Teori kognitif akhirnya berkembang menjadi teori humanisme yang menyatakan bahwa manusia bukan hanya mampu berpikir, tetapi juga mengerti akan makna hidup. Pertanyaannya, dari mana manusia mengerti akan makna, dari lingkungan atau dari mana? Teori psikologi mutakhir cenderung mengatakan bahwa faktor hereditas atau keturunan sangat dominan dalam menentukan kualitas manusia, bukan lingkungan.

Hadis Nabi Saw. mengisyaratkan adanya dua konsep tersebut. Menurut hadis Nabi Saw., setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang akan membentuknya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Pertanyaannya, apakah pengertian fitrah itu sama dengan selembar kertas putih kosong, atau selembar kertas yang sudah memiliki potensi warna yang menunggu diaktualkan?

Pengertian Fitrah

Dalam bahasa Arab, fitrah mempunyai tiga arti: belahan, muncul, dan penciptaan. Jika dihubungkan dengan manusia, fitrah berarti apa yang menjadi bawaan manusia sejak lahir, atau menurut istilah Melayu, keadaan semula jadi.

Dalam Al-Quran, kata fitrah dengan berbagai kata bentukannya disebut sebanyak 28 kali: 14 kali dalam konteks uraian tentang bumi dan langit, dan sisanya dalam konteks manusia. Jadi, fitrah manusia adalah potensi psikologis dan ruhaniah yang sudah ada dalam desain awal penciptaannya, baik potensi yang mendorong pada hal-hal yang positif maupun negatif. Sejak dalam kandungan, manusia telah memiliki potensi “kesempurnaan”, dan potensi sistem dalam menghadapi berbagai realitas kehidupan nanti setelah lahir hingga matinya. Pranatalia education berfungsi mengukuhkan potensi positif yang nanti akan menjadi pola dalam hukum Stimulus and Respond (SR).

Teori ini kemudian diadopsi oleh budaya Jawa yang mengatakan bahwa buah kelapa tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, atau kacang ora tinggal lanjarane (Jawa).

Konsep Sehat Walafiat dan Konsep Halâlan Thayyiban

Sehat berhubungan dengan fungsi, sedangkan afiat berhubungan dengan tujuan penciptaan atau makna. Mata yang sehat adalah mata yang bisa digunakan untuk melihat tanpa alat bantu, sedangkan mata yang afiat adalah mata yang mudah untuk melihat kebaikan dan susah untuk melihat keburukan. Sebab, tujuan atau makna penciptaan mata oleh Tuhan adalah agar bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Makna thayyiban untuk makanan adalah makanan yang bergizi tinggi, sedangkan halâlan mengandung arti spiritual, yakni diridhai Tuhan. Makanan yang bergizi tetapi dibeli dengan uang korupsi, maka makanan itu berguna untuk pembentukan fisik, tetapi merusak untuk pembentukan karakter karena tidak diridhai Tuhan.

Pranatalia education dimulai ketika sepasang suami istri melakukan hubungan intim. Hubungan seksual secara fisik merupakan pemuasan syahwat, tetapi secara spiritual mereka harus berdoa agar hubungan itu menjadi proses lahirnya anak yang saleh dan diberkati. Selama dalam kandungan, janin harus diberi konsum si yang halal dan thayyib melalui ibunya.

Begitu pula dengan ayah. Setiap aktivitasnya harus diniatkan sebagai proses pembentukan karakter anak. Jika berharap anaknya nanti berkarakter jujur, jangan sekali-sekali melakukan kebohongan ketika anaknya dalam kandungan. Jika ingin anaknya memiliki sifat pemurah, perbanyaklah sedekah.

Teori ini juga kemudian diadopsi oleh budaya Jawa, antara lain bahwa jika istri sedang mengandung, suami tidak boleh menyembelih hewan, tidak boleh menyakiti binatang, dan berbagai larangan lainnya. Tradisi ngupati (4 bulan) dan nujuh bulan sesungguhnya berdasarkan teori pranatalia education. Dan ketika anak lahir langsung di azani, yakni secara spiritual diberi fondasi iman dan tauhid.

Membangun Karakter Individu

Menurut Sigmund Freud, kepribadian manusia berdiri di atas tiga pilar: id, ego, dan super ego. Dengan istilah lain adalah unsur hewani, akal, dan moral. Perilaku manusia menurut Freud merupakan in teraksi dari ketiga pilar tersebut, tetapi kesimpulan Freud tentang manusia adalah homo volens, yakni makhluk berkeinginan yang tingkah lakunya dikendalikan oleh dorongan keinginan alam bawah sadarnya. Kritik terhadap teori Psikoanalisa Freud adalah kesimpulannya tentang manusia menempatkannya pada makhluk yang tidak merdeka karena ia tunduk pada keinginan bawah sadar.

Sebuah kesimpulan yang merendahkan martabat manusia. Dalam pandangan Islam, kepribadian merupakan interaksi dari kualitas-kualitas nafs, qalb, ‘aql, dan bashîrah-nya, interaksi antara jiwa, hati, akal, dan hati nuraninya.

Kepribadian seseorang, selain bermodal kapasitas fitrah bawaan sejak lahir dari warisan genetika orangtuanya, ia juga terbentuk melalui proses panjang riwayat hidupnya. Proses intemalisasi nilai pengetahuan dan pengalaman dalam dirinya. Dalam perspektif ini, agama yang diterima dari pengetahuan maupun yang dihayati dari pengalaman ruhani masuk ke dalam struktur kepribadian seseorang.

Orang yang menguasai ilmu agama atau ilmu akhlak (sebagai ilmu) tidak otomatis memiliki kepribadian yang tinggi, karena kepribadian bukan hanya aspek pengetahuan. Obsesi membentuk manusia (sebagai individu) yang berkepribadian atau yang berkarakter bisa dimiliki oleh orangtua terhadap anaknya, guru terhadap anak didiknya, atau oleh seseorang yang memiliki perhatian khusus kepada orang-orang dan anak-anak tertentu.

Membangun kepribadian bukanlah pekerjaan sederhana. Ia membutuhkan situasi psikologis dan sugesti yang kondusif bagi intemalisasi nilai. Infrastruktur yang harus disediakan bagi pembentukan insan yang berkepribadian antara lain:

1.       pengetahuan tentang nilai (values);

2.       lingkungan yang kondusif;

3.       adanya tokoh idola; dan

4.       pembiasaan pola tingkah laku.

Pengetahuan tentang Nilai

Tingkah laku manusia dipengaruhi oleh aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Jika seseorang memiliki kapasitas yang seimbang dari ketiga aspek tersebut, secara teori ia dapat hidup harmoni dengan lingkungan dan dengan dirinya karena ia mampu mengamati dan merespons permasalahan secara benar dan proporsional.

Di rumah saya pernah tinggal seorang gadis desa yang kepribadiannya sangat baik, rajin bekerja dan belajar, serta penuh tanggung jawab. Akan tetapi, saya sangat terkejut ketika ia melakukan sesuatu yang menurut ukuran saya tidak sopan atau tidak tahu diri.

Belakangan diketahui bahwa ia memang tidak tahu bahwa apa yang dilakukannya itu melanggar nilai-nilai etika dan bahkan nilai kesehatan, karena di kampung tempat tinggalnya hal tersebut tidak dipandang tercela oleh masyarakat.

Setelah diberi tahu, hal itu tidak pernah terulang kembali. Jadi, pengetahuan tentang nilai akhlak itu sangat besar pengaruhnya dalam pembentukan kepribadian, terutama bagi anak yang memiliki fitrah bawaan yang baik. Pengetahuan tentang nilai-nilai akhlak bisa disampaikan oleh:

1.       orangtua di rumah melalui dongeng sebelum tidur, kemudian melalui nasihat rutin atau khusus sehubungan dengan event-event penting, misalnya, ketika akan berangkat merantau, dalam proses memilih jodoh, ketika memulai hidup rumah tangga, atau akan menduduki suatu jabatan;

2.       guru di sekolah, berupa pelajaran ilmu akhlak atau budi pekerti. Pelajaran ilmu akhlak di sekolah pada umumnya lebih berpengaruh pada aspek kognitif, dan kurang menyentuh aspek afektif. Akan tetapi, disiplin sekolah yang bermuatan nilai akhlak, meski bisa jadi tidak disukai oleh murid, memiliki pengaruh yang cukup besar dalam diri si murid, sekurang-kurangnya masuk ke alam bawah sadar;

3.       ulama atau orang bijak setiap selesai shalat atau dalam pengajian, atau dalam pertemuan khusus;

4.       cendekiawan melalui forum diskusi;

5.       melalui literatur yang terprogram; dan

6.       bisa juga diperoleh dari peristiwa yang mengesankan hatinya yang kemudian dijadikan pelajaran.

Pada anak kecil dan remaja, pengetahuan tentang nilai akhlak itu bersifat normatif, tetapi pada orang dewasa, pengetahuan tentang nilai akhlak itu harus disampaikan dalam forum yang memungkinkan terjadinya dialog. Sebab, tujuan pemberitahuan tentang nilai bukan hanya informatif, tetapi diharapkan berakhir dengan penghayatan nilai.